TRIDAYA ABDUL JABBAR
TRIDAYA
CIPTA, RASA DAN
KARSA ADALAH PENTING UNTUK KESEIMBANGAN HIDUP, TETAPI HARUSLAH TETAP BERSANDAR
PADA KETAKWAAN, KEPASRAHAN DAN KEIKHLASAN KEPADA TUHAN YANG MAHA KUASA, SANG AL-JABBAR, KARENA BUKANKAH DAYA CIPTA MANUSIA HANYALAH SETITIK BUIH DI SAMUDERA. KITA HANYALAH HAMBA DARI Al-JABBAR. TANPA ITU KESEIMBANGAN HIDUP
HANYALAH SIA-SIA
(Syukron Sazly)
Sumber Bacaan dan Inspirasi :
BELAJAR
DARI MIMPI BESAR KI HADJAR DEWANTARA DAN ELON MUSK
Tulisan Marselus Suarta Kasmiran (Dosen di STKIP Pamane Talino)

Pada tahun 2014 Presiden Jokowi
memisahkan perguruan tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu
memasukkan Perguruan Tinggi ke dalam bagian dari Kementerian Riset dan
Teknologi. Banyak orang yang kecewa atas keputusan Presiden Jokowi tersebut.
Banyak yang menganggap pemisahan perguruan tinggi dari Kemendikbud melukai
idealisme pendidikan yang telah dibangun oleh para founding father.
Menurut Ki Hadjar Dewantara manusia
haruslah mengembangkan keseimbangan daya jiwa yaitu cipta, karsa, dan karya.
Joesoef (2014) menegaskan bahwa para founding father kita telah
mendasarkan pendidikan kita sebagai keseimbangan hidup yang tidak hanya
berfokus pada pengetahuan. Harapan akan adanya keseimbangan itu dimulai dari
jenjang pendidikan dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi. Tidak
boleh terputus. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya
secara seimbang. Siswa yang hanya berfokus pada pengetahuan saja akan
kehilangan keutuhannya sebagai manusia. Artinya, ketika fokus perguruan tinggi
ialah pada riset (pengetahuan), keseimbangan pendidikan tidak dapat dicapai.
Pengembangan pengetahuan haruslah diimbangi dengan pengembangan rasa dan karsa.
Pendidikan di Indonesia diharapkan tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tapi
juga sisi kesenian dan kehendak untuk peduli pada orang lain.
Hal yang menarik terjadi saat
pengumuman Kabinet Kerja Periode II. Presiden Jokowi kembali memasukkan dikti
ke dalam Kemedikbud. Tentu hal ini merupakan hal yang sangat mengembirakan.
Keprihatinan banyak orang akan keseimbangan dalam pendidikan ditanggapi dengan
baik oleh Presiden Jokowi.
Ada hal lain yang juga menarik
terjadi saat pengumuman Kabinet Kerja periode kedua Presiden Jokowi. Hal
tersebut ialah penunjukan Menteri pendidikan dari luar lingkungan orang
pendidikan. Beliau ialah Nadiem Makarim. Nadiem Makariem ialah seorang mantan
CEO Go-jek. Penujukan ini mendapat banyak kritik dan juga pujian pada saat yang
sama. Dari sudut pandang presiden, beliau menekankan tantangan teknologi yang
begitu pesat. Hal tersebut menjadi pertimbangan Presiden Jokowi untuk
menempatkan seorang Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Nampaknya kekhwatiran pemerintah
akan perkembangan teknologi ini bukan tanpa alasan. Anak didik yang guru-guru
ajar di sekolah mendapatkan informasi dengan sangat mudah dan cepat. Hanya
dengan mengucapkan “Ok Google” mereka sudah bisa mendapatkan informasi yang
mereka cari. Namun, penunjukan seorang yang sangat mengerti tentang
pengembangan teknologi tersebut memunculkan sebuah pertanyaan di benak penulis.
Apakah falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengutamakan keseimbangan
hidup (cipta, rasa dan karsa) masih relevan di zaman ini? Apakah pengembangan
cipta, rasa dan karsa masih dapat diterapkan di zaman dimana semua orang
berlomba untuk mengembangkan temuan-temuan baru di bidang pengetahuan?
Biografi Ki Hadjar Dewantara
Ki Hajar Dewantara memiliki nama
asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau lahir di Pakualaman pada tanggal
2 Mei 1889. Beliau ialah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis
politisi dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia Indonesia dari
zaman penjajah Belanda. Ia adalah seorang pendiri Perguruan Taman Siswa.
Perguruan Taman Siswa merupakan suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan
bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan. Ki Hajar
Dewantara dibesarkan di lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Selain
mendirikan Perguruan Taman Siswa, beliau merupakan Menteri pengajaran Indonesia
pertama di Jaman Soekarno.
Hal yang menarik dari seorang
anggota kerajaan ini ialah saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun
Caka, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar
Dewantara. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar
kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya Ki Hadjar Dewantara
dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Ki Hadjar Dewantara menamatkan
Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian melanjutkan sekolahnya
ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tapi lantaran sakit, sekolahnya tersebut
tidak bisa dia selesaikan.
Tanggal kelahiran beliau sekarang
diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Semboyan pendidikan beliau
menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Beliau meninggal di
Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959. Ki Hadjar Dewantara dikukuhkan sebagai
pahlawan nasional kedua oleh presiden Soekarno pada 28 November 1959.
Mimpi Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara hidup di masa
penjajahan Belanda. Saat itu sekolah-sekolah menganut sistem pendidikan barat.
Empat karakter utama pendidikan jaman Kolonial Belanda (1)
Dualistis-diskriminatif: sekolah dibedakan untuk anak pribumi, anak belanda dan
tionghoa, juga berdasarkan bahasa pengantarnya. (2) Gradualis: Sistem sekolah
dikembangkan sangat lamban, sehingga perlu seratus tahun lebih Indonesia
memiliki sistem pendidikan yang lengkap dari tingkat dasar hingga perguruan
tinggi. (3) Konkordansi: kurikulum dan sistem ujian disamakan dengan sekolah di
negri Belanda, dan (4) Pengawasan yang sangat ketat: Pendidikan telah memberi
peluang kepada bangsa Indonesia untuk mengisi jabatan yang dahulunya khusus
dicadangkan bagi “kasta” Eropa, dan secara perlahan mejadikan memiliki etos
budaya yang ingin semakin dekat dengan budayanya orang-orang Belanda.
Wiratmoko (2011:1) mengungkapkan
bahwa sistem pendidikan pada masa pemerintahan kolonial yang berorientasi pada
kepentingan Belanda dapat menyebabkan kesenjangan yang besar terhadap
masyarakat Indonesia. Ki Hadjar Dewantara menilai sistem barat kurang tepat
bagi pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu ia memunculkan sistem among,
sebuah sistem yang berbanding terbalik dengan sistem barat atau sistem Belanda
pada masa itu. Sistem among merupakan sistem pendidikan yang bertujuan untuk
menghasilkan manusia yang dapat mengatur dirinya sendiri, manusia yang berdiri
sendiri dalam merasa, berpikir, dan bertindak, manusia yang berkepribadian dan
berkarakter (le Febre, 1952:12-13). Model pendidikan barat, murid tidak
memiliki kesempatan untuk mengemukankan pendapat. Guru ialah tuan atas siswa di
kelas. Pemikiran dan pendirian Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara di masa
kolonial tersebut merupakan langkah yang sungguh berani. Beliau sedang
melakukan sebuah mimpi besar.
Pendidikan menurut Ki Hadjar
Dewantara adalah upaya kebudayaan yang berazaskan keadaban untuk memberikan dan
memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek)
dan tubuh anak yang selaras dengan dunianya. Oleh sebab itu segala alat, usaha,
dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan yang tersimpan dalam
adat istiadat setiap rakyat (Dewantara, 1962:14-15; Tauchid dkk., 1962:20,
166).
Pendidikan hanya merupakan sebuah
tuntunan, dimana pertumbuhan hidup anak tidak ditentukan oleh kehendak
pendidik. Ki Hadjar Dewantara menyarankan agar pendidik hanya menuntun
pertumbuhan dan hidupnya agar dapat bertambah baik budi pekertinya (Tauchid
dkk., 1962:21). Ki Hadjar Dewantara (1957:42-43) mengemukakan bahwa tujuan
pendidikan adalah memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan anak yang
selaras dengan alam dan masyarakatnya. Oleh sebab itu pendidik menuntun anak
pada kehidupan yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Ki Hadjar Dewantara (1956a:68)
mengatakan bahwa kebudayaan yang sejati pertama kali muncul dari hidup
kebangsaan yang kemudian meluas sebagai sifat kemanusiaan. Ia juga menjelaskan
bahwa Taman Siswa tidak asal memelihara kebudayaan bangsa, tetapi membawa
kebudayaan bangsa kepada kemajuan yang sesuai dengan perkembangan zaman, sesuai
dengan kemajuan dunia dan selaras dengan kepentingan hidup masyarakat
(Dewantara, 156:58). Kebudayaan ini merupakan hasil dari perjuangan manusia
terhadap kekuasaan alam dan zaman, serta membuktikan bahwa manusia mampu
mengatasi semua rintangan dan kesulitan dalam perjuangan hidup (Tauchid,
1962:171; Soejono, 1960:158).
Pemaknaan Konsep Pendidikan Ki
Hadjar Dewantara
Seperti yang penulis kemukakan di
bagian pengantar, pertanyaan yang mendasari tulisan ini ialah apakah falsafah
pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengutamakan keseimbangan hidup (cipta, rasa
dan karsa) masih relevan di zaman ini? Di saat semua orang berlomba untuk
mengembangkan temuan-temuan baru di bidang pengetahuan, apakah pengembangan
cipta, rasa dan karsa masih dapat diterapkan di pendidikan kita saat ini?
Mari kita belajar dari seorang tokoh
yang sangat terkenal di zaman ini. Beliau ialah Elon Musk. Elon Musk merupakan
pemimpi besar. Orang yang mampu memikirkan kelangsungan kehidupan manusia.
Beliau ialah contoh orang yang mengembangkan cipta, rasa dan karsa. Bagi
penulis, Elon Musk ialah seorang seniman sejati di zaman ini. Karya-karyanya di
bidang teknologi ialah sebuah karya seni yang mengubah kehidupan manusia.
Elon Musk dikenal dengan kepemilikan
Space Exploration Technologies, or SpaceX dan Tesla. Space x didasari dari
pemikiran Elon Musk akan sebuah tempat untuk menampung manusia, karena menurut
Elon Musk bumi tidak lagi akan dapat menampung manusia. Sementara Tesla
didasari pemikiran beliau bahwa sumber daya alam semakin menipis. Oleh sebab
itu pengunaan kendaraan yang dapat mengurangi pengurasan sumber daya alam
sangat diperlukan. Ia menciptakan mobil listrik. Pada tahun 2015 Elon Musk
membuka OpenAI. Sebuah wadah untuk memastikan kecerdasan buatan tidak menghancurkan
peradaban manusia.
Dalam debat antara Elon Musk dan
Jack Ma: Jack Ma mengatakan seberapa pintarpun kecerdasan buatan (AI), ia
tetaplah beroperasi bila ada manusia. Manusia menciptakan AI, AI tidak pernah
menciptakan manusia. Artinya manusia lah yang harus menjadi perhatian dalam
mengendalikan kecerdasan buatan tersebut. Namun Elon Musk mengatakan kita perlu
mengkhwatirkan perkembangan teknologi. Bila kita terlena, teknologi akan
membinasakan kita.
Terlepas dari benar salah kedua
argument tersebut, penulis menyadari bahwa konsep Ki Hajar Dewantara masih
sangat relevan di zaman ini. Di tengah tantangan kecepatan perkembangan
teknologi tersebut, pembangunan manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa
merupakan hal yang utama. Supaya peradaban manusia mampu bertahan di tengah
kecepatan perkembangan teknologi, manusia tidak cukup hanya mengisi pengetahuan
atau cipta nya saja. Manusia perlu juga belajar untuk mengembangkan rasa dan
karsanya. Tanpa hal tersebut manusia tidak beda dari artificial intelligence.
Dapatkah rasa dan karsa bersanding
dengan cipta? Mari belajar dari budaya orang-orang Jepang. Semua orang mengakui
kehebatan teknologi Jepang. Mari melihat keseharian mereka yang tetap
mengedepankan rasa dan karsa. Ambil contoh saat mereka turun tangga escalator.
Mereka berbaris rapi di sebelah kiri, agar orang yang perlu bergerak lebih
cepat dapat mengambil jalan sebelah kanan. Di dalam kereta semua orang diam,
karena menghargai orang lain yang butuh istrihat saat pulang dari kerja.
Penghargaan mereka akan budaya asli mereka membuat mereka semakin kuat, bukan
semakin hancur oleh teknologi.
Di Indonesia, kita perlu
mempertahankan falsafah pendidikan cipta, rasa dan karsa. Bukan hanya
mempertahankan, kita juga perlu meningkatkan hal tiga hal tersebut. Fenomena
perkembangan teknologi yang begitu cepat bisa membuat Bangsa Indonesia hancur,
bila Bangsa Indonesia tidak memahami budaya mereka. Coba lihat di media social.
Orang dengan mudah menghujat satu sama lain. Apakah itu budaya kita? Kita
dikenal dengan budaya sopan santun yang tinggi. Kurangnya pengembangan karsa
dan rasa, membuat kita hancur segera.
Implementasi bagi Guru dan Calon
Guru
Ajaklah murid-murid untuk mengali
kebudayaan lokal, agar tumbuh menjadi manusia yang memiliki rasa. Namun
memiliki rasa saja tidak cukup. Bukalah banyak kesempatan berdiskusi untuk
belajar dari orang lain (cipta/pengetahuan). Jadilah pembelajar yang mandiri
namun juga berkehendak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat (karsa).
Ciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Terlepas dari perdebatan dan
pandangannya yang berbeda dengan Jack Ma. Elon Musk ialah seniman pada
zaman ini. Elon Musk mengarahkan karya-karyanya ke sesuatu yang berguna bagi
kehidupan orang banyak. Motivasinya didorong oleh keinginan untuk membantu
orang lain. Visi Ki Hadjar Dewantara keseimbangan hidup merupakan suatu
falsafah yang masih relevan sampai saat ini. Manusia harus lah didorong oleh
cipta, rasa dan karsa. Teknologi hanyalah alat untuk memudahkan kita. Bukan
tuan atas kemanusian kita.
Komentar
Posting Komentar