BEKERJA ADALAH IBADAH
BEKERJA
Sumber Bacaan dan Inspirasi :
Mungkin Anda sering mendengar bahwa kerja adalah ibadah. Bahkan untuk menguatkan hal itu para pembicara menyampaikan hadis yang intinya “ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan sholat, zakat, puasa dan haji sekalipun tetapi hanya bisa dihapus dengan mencari nafkah penghidupan.” Salah satu cara mencari nafkah adalah dengan bekerja.
ALLAH TIDAKLAH MENCIPTAKAN JIN DAN MANUSIA KECUALI UNTUK
BERIBADAH. IBADAH YANG DIMAKSUD ADALAH IBADAH RITUAL DAN JUGA IBADAH SOSIAL. BEKERJA
UNTUK KELUARGA DAN MASYARAKAT TERMASUK IBADAH SOSIAL DAN JIKA GUGUR DI MEDAN
KERJA MAKA TERMASUK SYAHID, SEPERTI DI MEDAN PERANG
(Syukron
Sazly)
Sumber Bacaan dan Inspirasi :
Benarkah
Kerja Ibadah ?
Oleh Jamil
Azzaini, Direktur Kubik Group
Mungkin Anda sering mendengar bahwa kerja adalah ibadah. Bahkan untuk menguatkan hal itu para pembicara menyampaikan hadis yang intinya “ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan sholat, zakat, puasa dan haji sekalipun tetapi hanya bisa dihapus dengan mencari nafkah penghidupan.” Salah satu cara mencari nafkah adalah dengan bekerja.
Akhir-akhir ini saya juga sering
dititipi pesan oleh pimpinan yang mengundang saya memberikan seminar atau
training untuk menekankan bahwa kerja itu adalah ibadah. Namun benarkah bekerja
itu ibadah? Tergantung. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kerja Anda
bernilai ibadah. Pertama, niatkan bekerja sebagai cara mendekatkan diri kepada
Allah. Ibadah memang bukan hanya di tempat ibadah atau saat menjalankan
aktifitas ritual. Semua sendi adalah ibadah, termasuk bekerja.
Bahkan hal yang kecil, contohnya
masuk kamar mandipun ibadah, membuang sampah pada tempatnya juga ibadah. Semua
hal dimana Anda menyertakan Allah dalam aktifitas itu, berpeluang besar
bernilai ibadah.
Kedua, cara yang dilakukan harus
benar. Niatnya benar tapi caranya keliru tak akan bernilai ibadah. Anda sholat,
niatnya benar karena Allah, tetapi sujudnya diganti dengan koprol, walau Anda
ikhlas tak akan bernilai ibadah. Begitu juga dengan bekerja. Cara bekerjanya
harus benar, di tempat yang benar, tidak bertentangan dengan ketentuan-Nya.
Jadi, walau Anda ikhlas karena Allah
tetapi Anda bekerja di tempat yang diharamkan atau memproduksi barang dan jasa
yang dilarang oleh Sang Pemberi Rezeki maka lelah Anda selama bekerja tak ada
nilainya di sisi Allah. Anda hanya memperoleh penghasilan tetapi tidak
memperoleh ganjaran. Sungguh rugi, bekerja mencari rezeki tetapi justeru
menjauh dari Sang Pemberi Rezeki.
Ketiga, Anda enjoy, tulus dan
senang. Segala sesuatu yang dilakukan dengan mengeluh dan penuh keterpaksaan
tidak akan bernilai ibadah. Jadi bila Anda kerja, namun Anda lebih sering
terpaksa, mengeluh, bahkan terkadang mencaci perusahaan tempat Anda bekerja
maka jangan berharap Anda mendapat pahala. Anda mungkin mendapat gaji yang utuh
tetapi pahala dan keberkahan rezeki akan menjauh dari Anda.
Bagaimana agar bekerjanya enjoy?
Bekerjalah dengan passion Anda, agar lelah, keringat dan jerih payah Anda
mendapat balasan berlimpah di dunia (penghasilan, penghargaan dll) dan juga
bisa menjadi bekal untuk kehidupan setelah dunia. Itulah pentingnya Anda
menemukan passion dan bekerja sesuai dengan passion. Karena dengan cara itu
Anda berpeluang besar mendapatkan keuntungan di dunia dan tempat terhormat di
kehidupan akherat.
Ingatlah ketiga hal tersebut di
atas: niat, cara, enjoy agar kerja Anda bernilai ibadah. Penghasilan berlimpah,
pahala terus bertambah dan hidup semakin SuksesMulia dan berkah. Enak khan
bekerja dapat rupiah sekaligus bernilai ibadah? Asyik to, bekerja dapat bayaran
sekaligus ganjaran? Enak tenan…
Sumber Bacaan
dan Inspirasi :
Bekerja itu ibadah, mendapatkan pahala, dan dinilai fi
sabilillah (berada di jalan Allah SWT). Alasannya, dalam Islam, bekerja itu
hukumnya wajib. Melaksankan kewajiban termasuk ibadah. Maka, bekerja artinya
melaksakan kewajiban dan itu bernilai ibadah.
Bekeja, secara bahasa, adalah
mencari nafkah atau mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ibadah
secara bahasa artinya “perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah Swt., yang
didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya” (KBBI).
Allah SWT memerintahkan kita
bekerja. Maka, bekerja artinya melaksanakan perintah-Nya dan itu termasuk
ibadah.
Sebagaimana ibadah seperti shalat dan
puasa, bekerja pun harus dilakukan dengan baik. Seorang pekerja harus
sungguh-sungguh (khusyu’), menaati aturan (SOP), disiplin, dan
profesional dalam bekerja.
Sejumlah ayat Al-Quran dan Hadits
Nabi Muhammad Saw berikut ini menunjukkan bekerja itu ibadah. Mencari nafkah
–dengan cara halal tentunya– untuk diri sendiri dan keluarga itu berpahala.
Nabi Saw menyebutnya sebagai bagian dari berjuang di jalan Allah SWT (fi
sabilillah).
Bekerja
Itu Ibadah: Dalil dari Al-Quran
Dalam Al-Quran, Allah SWT
menyatakan, Dia menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk istirahat,
menjadikan bumi yang luas untuk mencari nafkah,
“Kami telah membuat waktu siang
untuk mengusahakan kehidupan (bekerja).” (QS. Naba” : 11).
“Kami telah menjadikan untukmu semua
didalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja); Tetapi
sedikit sekali diantaramu yang bersyukur.” (QS. A”raf : 10).
“Apabila telah ditunaikan sholat,
maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah
Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum”ah : 10).
Dialah yang menjadikan bumi ini
mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari
rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15).
“Dia mengetahui bahwa akan ada di
antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi
mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di
jalan Allah..” (QS. Al-Muzzammil: 20).
Bekerja
Itu Ibadah: Dalil Hadits
Diriwayatkan, beberapa orang sahabat
melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari
pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat) dilakukan untuk jihad di jalan
Allah.”
Nabi Saw menyela mereka dengan
sabdanya, “Janganlan kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi
anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja
untuk menafkahi kedua orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan
jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah.
Namun jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan
setan.” (HR Thabrani).
“Bekerja mencari yang halal itu
suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah”. (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Komentar
Posting Komentar